Tamblong
Puntung-puntung rokok bersatukan ludah,
di Jalan Tamblong.
Di sana tenggelam cinta atau benci dan sunyi hati.
Berdatanglah di sana, para teladan, digoda dingin.
Memeluk surga yang semu, yang didambanya, pada suatu waktu.
Ayam berkokok, setan gentayang,
ranjang bernyanyi durja.
Berapa lama sandiwara usai, yang bukan aktor tidak ambil bagian.
Malam masih hidup, tapi tinggal kerangka
di jalan Tamblong.
Pulanglah hati yang sunyi, pada miliknya.
pada suatu masa


0 Responses to “Remy Silado”