By fian

Tamblong

Puntung-puntung rokok  bersatukan ludah,
di Jalan Tamblong.
Di sana tenggelam cinta atau benci dan sunyi hati.
Berdatanglah di sana, para teladan, digoda dingin.
Memeluk surga yang semu, yang didambanya, pada suatu waktu.

Ayam berkokok, setan gentayang,
ranjang bernyanyi durja.
Berapa lama sandiwara usai, yang bukan aktor tidak ambil bagian.

Malam masih hidup, tapi tinggal kerangka
di jalan Tamblong.
Pulanglah hati yang sunyi, pada miliknya.
pada suatu masa


0 Responses to “Remy Silado”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Follow

Get every new post delivered to your Inbox.