Archive for the 'Uncategorized' Category

27
Sep
10

The 5 Rules of Happiness

Baru membaca artikel tulisan Burt Goldman di newsletter Mind Power News mengenai “5 Rules of Happiness”. Cukup menggelitik: lucu, kelihatannya mudah, tapi….
1. If you Lke a thing, Enjoy it
Gampang, kan.
2.If you don’t like a thing, Avoid it
Keliatannya gampang. Bagaimana kalau itu adalah pekerjaan yang sekarang ini sedang kita hidupi,  yang “menghidupi” kita? Berapa banyak pembenaran untuk tidak menghindari hal-hal ini?
3.If you don’t like a thing, and you cannot avoid it, Change it
Sama seperti poin 2 di atas.
4.If you don’t like a thing, Cannot avoid it, and Cannot or will not change it, Accept it
Nah disini mulai kelihatan “tantangan”nya. Bagaimana kita menerima hal-hal yang tidak kita sukai. Kalau kita tidak menyukai sesuatu, tidak bisa menghindarinya, tidak bisa (tidak mau) merubahnya dan tidak dapat menerimanya, pastinya kita nggak happy.
Kuncinya ada di rule yang ke 5:
5.You accept a thing by changing your attitude towards it
Kita adalah hasil dari sudut pandang dan perilaku kita. Segalanya tergantung pada orang yang mengalaminya. Nggak ada yang mutlak. Tidak ada yang mutlak bagus atau jelek. Tergantung pada yang menjalaninya.
Begitu pula dengan kehidupan. kita merubah hal-hal tersebut dengan merubah sudut pandang kita tentang hal-hal tersebut.
Gampang-gampang susah, ya?
Perilaku dan sudut pandang kita adalah bagian dari pikiran (mind) kita. Jika kita bisa mengembangkan kemampuan untuk mengkontrol pikiran kita, maka kita akan menjadi tuan atas perilaku dan sudut pandang kita. Dengan melatihnya, lama kelamaan hal tersebut bisa berjalan secara otomatis.
Semua kejadian di sekitar kehidupan kita bersifat netral. Memang ada naik-turun dan liku-liku lainnya. Tapi pikiran kitalah yang memberi makna padanya: susah, senang.
Eventually, happiness is just a state of mind, isn’t it?
(fian, 27 September 2010)
24
Mar
10

Berhenti

Menarik untuk sesekali berhenti, di tengah derasnya irama hidup di kota metropolitan. Untuk sekedar mengingat-ingat kejadian lampau. Untuk melihat sampai dimana perjalanan hidup kita. Atau untuk sekedar beristirahat dari gemulai tarian kehidupan yang tak pernah berhenti. Ya tidak pernah berhenti. Bahkan saat tidur pun jiwa kita tidak sempat untuk melepaskan diri dari pusaran tersebut.

Ya menarik untuk sesekali berhenti. Paling tidak untuk secara sadar melihat ada dimana kita, diantara titik awal keberangkatan kita dan tujuan yang sudah kita tetapkan. Suatu hal yang luarbiasa untuk mendapatkan kesadaran diri, secara sadar. Jika tidak, kita akan seperti mengendarai mobil tanpa pernah melihat pada dashboard. Bahkan tanpa pernah menyadari ada dimana kita sekarang. Apalagi jika kita berangkat tanpa menetapkan satu tujuanpun. Seperti tikus yang terus berlari, terus berlari diatas treadmill. Hanya berlari tanpa tahu akan berlari menuju mana…

Maka memang menarik untuk sesekali berhenti. Untuk mulai menetapkan tujuan. Untuk membuat hidup mempunyai makna, tidak hanya menjadi sekrup dari mesin kehidupan.

Menarik untuk sesekali berhenti, sebelum hidup menghentikan kita pada suatu titik tujuan yang tidak kita tuju……

26
Dec
09

Blackberry for wordpress

Just try to post something from wordpress client for blackberry. To download it go to http://blackberry.wordpress.org/install

15
Oct
09

Goal Setting

Dalam cerita Alice in the wonderland, ada sebuah adegan dimana Alice tiba dipersimpangan jalan dan dia bertanya pada Chesire Cat, jalan mana yang harus ia tempuh. Si kucing bertanya balik, kemana dia ingin pergi. Ketika Alice menjawab “nggak peduli kemana”, dia bilang “ya nggak penting juga jalan mana yang kamu ambil”. Akhirnya Alice hanya berkeliling-keliling tanpa tujuan dalam perjalanannya.
Sebagaimana Alice, seringkali kita menjalani hidup tanpa arah yang jelas. Bahkan ada studi yang menunjukkan bahwa kebanyakan orang tidak tau apa yang mereka inginkan dalam hidup ini. Kalaupun mereka tau, mereka tidak punya rencana untuk menggapai impiannya. Hanya sebagian kecil orang yang memiliki tujuan yang jelas dan spesifik. Dan orang-orang yang sering mencapai tujuannya adalah mereka yang menuliskan tujuan mereka dan membuat rencana untuk mencapai tujuan tersebut.
Menuliskan tujuan adalah faktor penting. Salah satunya adalah agar tujuan tersebut kerap kita baca, kemudian kita serap dan di breakdown menjadi rencana untuk mencapainya. Berikut beberapa petunjuk untuk goal setting:
1. Goal harus dibuat tertulis dan SMART (spesifik, measurable, achievable, reasonable, timely)
2. Goal harus dapat divisualisasikan
3. Goal harus dapat dimanage
4. Analisa potensial problemnya
5. Action plan untuk mengatasi permasalahan tersebut
6. Harus direview progresnya secara berkala
7. Harus memiliki reward yang sangat berarti untuk anda.

26
Jun
09

Kesetiaan seekor anjing

(sumber: kiriman email dari seorang teman)

Di Kota Shibuya, Jepang, tepatnya di alun-alun sebelah timur Stasiun Kereta Api Shibuya, terdapat patung yang sangat termasyur. Bukan patung pahlawan ataupun patung selamat datang, melainkan patung seekor anjing. Dibuat oleh Ando Takeshi pada tahun 1935 untuk mengenang kesetiaan seekor anjing kepada tuannya.

Seorang Profesor setengah tua tinggal sendirian di Kota Shibuya. Namanya Profesor Hidesamuro Ueno. Dia hanya ditemani seekor anjing kesayangannya, Hachiko. Begitu akrab hubungan anjing dan tuannya itu sehingga kemanapun pergi Hachiko selalu mengantar. Profesor itu setiap hari berangkat mengajar di universitas selalu menggunakan kereta api. Hachiko pun setiap hari setia menemani Profesor sampai stasiun. Di stasiun Shibuya ini Hachiko dengan setia menunggui tuannya pulang tanpa beranjak pergi sebelum sang profesor kembali.. Dan ketika Profesor Ueno kembali dari mengajar dengan kereta api, dia selalu mendapati Hachiko sudah menunggu dengan setia di stasiun. Begitu setiap hari yang dilakukan Hachiko tanpa pernah bosan.

Musim dingin di Jepang tahun ini begitu parah. Semua tertutup salju. Udara yang dingin menusuk sampai ke tulang sumsum membuat warga kebanyakan enggan ke luar rumah dan lebih memilih tinggal dekat perapian yang hangat.

Pagi itu, seperti biasa sang Profesor berangkat mengajar ke kampus. Dia seorang profesor yang sangat setia pada profesinya. Udara yang sangat dingin tidak membuatnya malas untuk menempuh jarak yang jauh menuju kampus tempat ia mengajar. Usia yang semakin senja dan tubuh yang semakin rapuh juga tidak membuat dia beralasan untuk tetap tinggal di rumah. Begitu juga Hachiko, tumpukan salju yang tebal dimana-mana tidak menyurutkan kesetiaan menemani tuannya berangkat kerja. Dengan jaket tebal dan payung yang terbuka, Profesor Ueno berangkat ke stasun Shibuya bersama Hachiko. Tempat mengajar Profesor Ueno sebenarnya tidak terlalu jauh dari tempat tinggalnya. Tapi memang sudah menjadi kesukaan dan kebiasaan Profesor untuk naik kereta setiap berangkat maupun pulang dari universitas.

Kereta api datang tepat waktu. Bunyi gemuruh disertai terompet panjang seakan sedikit menghangatkan stasiun yang penuh dengan orang-orang yang sudah menunggu itu. Seorang awak kereta yang sudah hafal dengan Profesor Ueno segera berteriak akrab ketika kereta berhenti. Ya, hampir semua pegawai stasiun maupun pegawai kereta kenal dengan Profesor Ueno dan anjingnya yang setia itu, Hachiko. Karena memang sudah bertahun-tahun dia menjadi pelanggan setia kendaraan berbahan bakar batu bara itu.

Setelah mengelus dengan kasih sayang kepada anjingnya layaknya dua orang sahabat karib, Profesor naik ke gerbong yang biasa ia tumpangi. Hachiko memandangi dari tepian balkon ke arah menghilangnya profesor dalam kereta, seakan dia ingin mengucapkan," saya akan menunggu tuan kembali."

" Anjing manis, jangan pergi ke mana-mana ya, jangan pernah pergi sebelum tuan kamu ini pulang!" teriak pegawai kereta setengah berkelakar.

Seakan mengerti ucapan itu, Hachiko menyambut dengan suara agak keras,"guukh!" Tidak berapa lama petugas balkon meniup peluit panjang, pertanda kereta segera berangkat. Hachiko pun tahu arti tiupan peluit panjang itu. Makanya dia seakan-akan bersiap melepas kepergian profesor tuannya dengan gonggongan ringan. Dan didahului semburan asap yang tebal, kereta pun berangkat. Getaran yang agak keras membuat salju-salju yang menempel di dedaunan sekitar stasiun sedikit berjatuhan.

Di kampus, Profesor Ueno selain jadwal mengajar, dia juga ada tugas menyelesaikan penelitian di laboratorium. Karena itu begitu selesai mengajar di kelas, dia segera siap-siap memasuki lab untuk penelitianya. Udara yang sangat dingin di luar menerpa Profesor yang kebetulah lewat koridor kampus.

Tiba-tiba ia merasakan sesak sekali di dadanya. Seorang staf pengajar yang lain yang melihat Profesor Ueno limbung segera memapahnya ke klinik kampus. Berawal dari hal yang sederhana itu, tiba-tiba kampus jadi heboh karena Profesor Ueno pingsan. Dokter yang memeriksanya menyatakan Profesor Ueno menderita penyakit jantung, dan siang itu kambuh. Mereka berusaha menolong dan menyadarkan kembali Profesor. Namun tampaknya usaha mereka sia-sia. Profesor Ueno meninggal dunia. Segera kerabat Profesor dihubungi. Mereka datang ke kampus dan memutuskan membawa jenazah profesor ke kampung halaman mereka, bukan kembali ke rumah Profesor di Shibuya.

Menjelang malam udara semakin dingin di stasiun Shibuya. Tapi Hachiko tetap bergeming dengan menahan udara dingin dengan perasaan gelisah. Seharusnya Profesor Ueno sudah kembali, pikirnya. Sambil mondar-mandir di sekitar balkon Hachiko mencoba mengusir kegelisahannya. Beberapa orang yang ada di stasiun merasa iba dengan kesetiaan anjing itu. Ada yang mendekat dan mencoba menghiburnya, namun tetap saja tidak bisa menghilangkan kegelisahannya.

Malam pun datang. Stasiun semakin sepi. Hachiko masih menunggu di situ. Untuk menghangatkan badannya dia meringkuk di pojokan salah satu ruang tunggu. Sambil sesekali melompat menuju balkon setiap kali ada kereta datang, mengharap tuannya ada di antara para penumpang yang datang. Tapi selalu saja ia harus kecewa, karena Profesor Ueno tidak pernah datang. Bahkan hingga esoknya, dua hari kemudian, dan berhari-hari berikutnya dia tidak pernah datang. Namun Hachiko tetap menunggu dan menunggu di stasiun itu, mengharap tuannya kembali. Tubuhnya pun mulai menjadi kurus.

Para pegawai stasiun yang kasihan melihat Hachiko dan penasaran kenapa Profesor Ueno tidak pernah kembali mencoba mencari tahu apa yang terjadi. Akhirnya didapat kabar bahwa Profesor Ueno telah meninggal dunia, bahkan telah dimakamkan oleh kerabatnya.

Mereka pun berusaha memberi tahu Hachiko bahwa tuannya tak akan pernah kembali lagi dan membujuk agar dia tidak perlu menunggu terus. Tetapi anjing itu seakan tidak percaya, atau tidak peduli. Dia tetap menunggu dan menunggu tuannya di stasiun itu, seakan dia yakin bahwa tuannya pasti akan kembali. Semakin hari tubuhnya semakin kurus kering karena jarang makan.

Akhirnya tersebarlah berita tentang seekor anjing yang setia terus menunggu tuannya walaupun tuannya sudah meninggal. Warga pun banyak yang datang ingin melihatnya. Banyak yang terharu. Bahkan sebagian sempat menitikkan air matanya ketika melihat dengan mata kepala sendiri seekor anjing yang sedang meringkuk di dekat pintu masuk menunggu tuannya yang sebenarnya tidak pernah akan kembali. Mereka yang simpati itu ada yang memberi makanan, susu, bahkan selimut agar tidak kedinginan.

Selama 9 tahun lebih, dia muncul di station setiap harinya pada pukul 3 sore, saat dimana dia biasa menunggu kepulangan tuannya. Namun hari-hari itu adalah saat dirinya tersiksa karena tuannya tidak kunjung tiba. Dan di suatu pagi, seorang petugas kebersihan stasiun tergopoh-gopoh melapor kepada pegawai keamanan. Sejenak kemudian suasana menjadi ramai. Pegawai itu menemukan tubuh seekor anjing yang sudah kaku meringkuk di pojokan ruang tunggu. Anjing itu sudah menjadi mayat. Hachiko sudah mati. Kesetiaannya kepada sang tuannya pun terbawa sampai mati.

Warga yang mendengar kematian Hachiko segera berduyun-duyun ke stasiun Shibuya. Mereka umumnya sudah tahu cerita tentang kesetiaan anjing itu. Mereka ingin menghormati untuk yang terakhir kalinya. Menghormati sebuah arti kesetiaan yang kadang justru langka terjadi pada manusia.

Mereka begitu terkesan dan terharu. Untuk mengenang kesetiaan anjing itu mereka kemudian membuat sebuah patung di dekat stasiun Shibuya. Sampai sekarang taman di sekitar patung itu sering dijadikan tempat untuk membuat janji bertemu. Karena masyarakat di sana berharap ada kesetiaan seperti yang sudah dicontohkan oleh Hachiku saat mereka harus menunggu maupun janji untuk datang. Akhirnya patung Hachiku pun dijadikan symbol kesetiaan. Kesetiaan yang tulus, yang terbawa sampai mati.

Film ttg kisah hachiko dibuat d jepang tahun 1987 dgn judul "Hachiko Monagatari". Film ini banyak memperoleh penghargaan…

16
Jun
09

MAU TUA OR MUDA

Ini cerita menarik dari LA, tentang seorang tua bernama Ernest Heyneman. Banyak orang yang pikun saat usia lanjut, tapi tidak dengannya. Di usianya yang ke 85, ia ditangkap karena telah mencuri 3500 buku dan video selama kurun waktu empat tahun. Pria pensiunan pegawai studio film ini kini dilarang memasuki perpustakaan lokal. Menyikapi hukuman tersebut, pengacaranya begitu kecewa
karena merasa hukuman tersebut adalah penjara baginya. “Heyneman adalah kutu buku. Hukuman seperti itu adalah penjara baginya, bahkan lebih buruk”.
Lantas bagaimanakah modus pencurian buku yang dilakukan Heynemen? Dalam seminggu ia pinjam beberapa buku dan video untuk dibawa pulang. Lantas, ia mulai mencopoti tanda pengaman lalu ia kembalikan tepat waktu. Setelah itu, ia kembali lagi hari berikutnya untuk mulai menyelundupkan buku pilihannya tanpa terdeteksi saat melewati pintu pengaman. Sebuah cara yang cerdik!

Tua tidak Berarti Lemah
Siapa bilang bahwa tua harus lemah? Acapkali kita dengar bagaimana orang menggunakan ketuaannya sebagai alasan untuk ke-tidakproduktifan -nya, untuk kealpaannya serta kekhilafannya. Usia,
kenyataannya bukanlah suatu penghambat untuk meraih yang lebih tinggi. Usia pun bukan kendala dalam hal karir dan kerja. Orang Jepang sangat menghargai senioritas. Jabatan-jabatan tertentu di psh Jepang kadang disediakan hanya bagi mereka yang diprediksikan telah berambut putih, lambang kematangan. Mereka percaya, pengalaman akan membuat orang menjadi dewasa. Loyalitas
dan usia, dihargai oleh mereka. Celakanya, tidak semua orang tua menjadi matang. Banyak orang yang tua secara usia, namun secara mental, masih terbelakang. Orang ini tua secara badaniah
namun sayang, kearifan serta kematangan tidak menyertainya. Tak heran jika ada pepatah, banyak orang menjadi tua tanpa pernah menjadi dewasa. Masalahnya, ketuaan tidaklah selalu sama dengan kematangan. Kita mengenal pula banyak orang yang sukses dan berhasil tatkala di saat-saat tua. Kolonel Sanders misalnya, mencapai suksesnya tatkala ia telah pensiun di usia 67 tahun! Untung saja bahwa ia tidak mengeluh dan menyerah di usianya yang telah renta. Andaikan ia menggunakan alasan ketuaannya untuk berhenti mungkin tak kan pernah dunia merasakan ayam lezat ala KFC-nya.
Menjadi tua hanyalah ada dalam pikiran kita. Secara fisik, orang bisa menjadi jompo dan lemah, tetapi jiwa manusia tidak mengenal usia. Jiwa manusia mengandung potensi di luar batas dimensi fisik dan waktu. Karena itu, tatkala fisik telah renta dan melemah, jiwalah yang perlu dibina. Sayangnya banyak orang tua membiarkan dirinya digerogoti baik fisik maupun jiwanya. Menolak fisik menjadi tua adalah keniscayaan. Tetapi menolak jiwa menjadi tua, adalah pilihan. Bagaimana membangun jiwa yang terus-menerus muda?

ALWAYS HAVE FUN
Kegembiraan adalah makanan bagi jiwa. Seringkali dikatakan laughter is the best medicine. Mungkin humor dan gembira, tidaklah lantas membuat penyakit dan permsalahan kita lenyap total. Tetapi dengan melihat hidup dari sisi yang ceria, hidup terasa menjadi lebih nikmat. Lagipula, masalah hidup tidak pernah akan selesai. Ibarat gelombang, setelah surut, akan muncul pasang yang lain. Tetapi hati yang gembira adalah ibarat selancar yang membuat kita dapat menjalani segala pasang surut lautan kehidupan dengan rasa damai. Itulah sebabnya mereka-mereka yang berusia panjang, cenderung memiliki sense of humor yang baik dalam hidupnya.

HIDUP KINI DAN DISINI
Alkisah pernah suatu kali malaikat diutus kebumi untuk memberi hadiah kepada orang yang paling berbahagia di bumi. Namun, setelah bulanan mengelilingi bumi, tidak ditemukan seorang pun yang paling berbahagia. Ternyata, kebanyakan manusia tidak ada yang betul-betul menikmati dan bersyukur atas hidupnya. Mereka hidup di dua alam: alam masa lalu dan masa depan. Akhirnya, hadiahnya pun dikembalikan pada Tuhan. Kehidupan bukanlah melulu soal usia. Bruce Lee membuktikan, meskipun hidupnya pendek, ia dikenang dengan kontribusinya yang luar biasa bagi martial arts, seni bela diri. Itu sebabnya salah satu rahasia awet muda yang lain adalah menikmati hidup kini dan disini. Kuncinya terletak pada kerelaan kita melepaskan masa lampau serta tidak terlalu banyak khawatir akan masa depan. Seperti kata Bruce Lee, “Yang penting bukanlah seberapa panjang anda hidup. Tetapi bagaimana anda hidup itulah yang penting”. Nikmatilah tarikan nafas Anda sekarang, itulah realita terpenting saat ini.

TETAPLAH BERGERAK FISIK DAN MENTAL
Jangan membiarkan pikiran maupun fisik menjadi terlalu lama beristirahat dan diam. Janganlah fisik kita, pikiran yang terlalu lama didiamkan pun akhirnya akan melemah. Konon, sumber penurunan daya otak yang terpenting adalah karena membiarkan otak kita tidak bekerja sama sekali. Fisik kita pun mestinya senantiasa bergerak pula. Para dokter dan paramedis tahu, jika fisik dibiarkan terlalu lama di suatu tempat tanpa bergerak maka akan mulai muncul borok di badan. Kenyataanya pula, mereka yang berusia panjang ternyata masih memiliki kesibukan dan masih menyibukkan diri dengan berbagai kegiatan di usianya yang telah menjelang maghrib. Jadi, benarlah kata iklan, “Menjadi tua itu pasti. Tetapi, menjadi muda itu soal pilihan”.

(Sumber: Anthony Dio Martin/ artikel HR Excellency)

05
Jun
09

Berselancar

Karena kita tidak bisa menghentikan ombak, maka kita harus belajar berselancar.

Dalam hidup, sudah tentu kita sering menjumpai adanya masalah. Sebagaimana ombak di laut, beberapa masalah tersebut kita anggap besar, sebagian yang lain kita anggap kecil. Sebagaimana juga ombak, masalah demi masalah akan terus datang dalam kehidupan kita. Kita tidak bisa menghilangkannya, karena memang sejatinya hidup adalah untuk menghadapi semua permasalahan tersebut, sebagai bagian dari proses pendewasaan dan peningkatan kemampuan hidup kita sebagai manusia.

Menarik untuk menganalogikan kehidupan kita dengan dinamika kehidupan di laut. Dimana ombak akan selalu datang silih berganti. Menarik juga untuk menganalogikan diri kita dengan para peselancar yang tanpa gentar menghadapi ombak tersebut. Saat-saat awal, dimana kemampuan masih terbatas, para peselancar kerap jatuh digulung ombak. Namun dengan semangat kembali bangkit untuk menunggangi ombak lain yang datang. Seiring dengan berjalannya waktu dan latihan yang dijalani, kemampuan peselancar semakin membaik. Semakin mampu untuk menunggangi ombak yang lebih besar. Dan semakin besar.

Demikian pula kita dalam kehidupan. Seiring dengan berjalannya waktu, maka kita akan semakin “mahir” dalam menghadapi masalah di kehidupan kita. Tidak perlu kita lawan, karena memang tidak akan bisa. Tapi kita bisa menungganginya, meningkatkan kemampuan hidup kita, mengarahkan kepada hal-hal yang positif dalam kehidupan kita.

Maka, marilah kita menjadi peselancar dalam mengarungi lautan kehidupan kita yang dinamis ini.

Jakarta 5 Juni 2009




Follow

Get every new post delivered to your Inbox.