Ada suatu joke / teka-teki lawas:
T: Bagaimana memasukan gajah ke dalam kulkas?
J: Buka pintu kulkas, masukan gajahnya lalu tutup kembali kulkasnya.
T: Lalu bagaimana cara memasukan kuda kedalam kulkas?
J: Buka pintu kulkas, keluarkan gajahnya, kemudian masukkan kudanya kedalam kulkas, lalu tutup pntu kulkasnya
T: Di hutan, tarzan berteriak lantang memanggil seluruh binatang. Semua binatang hadir, tapi ada 1 yang tidak hadir. Binatang apakah itu?
J: Kuda, karena masih ada di dalam kulkas.
Seringkali kita melihat suatu permasalahan dari sudut pandang yang rumit dan luput melihatnya melalui sudut pandang yang lebih sederhana. Seperti pada teka-teki diatas, pada awalnya kebanyakan kita akan berfikir secara logis tentang dimensi gajah dan dimensi kulkas yang tidak sebanding. Nggak mungkin banget deh. Kemudian ada jawaban yang sangat sederhana, yang sama logisnya, walaupun nggak nyambung. Memang teka-teki diatas merupakan sebuah joke, dimana jawabannya tentu tidak “kena” di alam nyata. Namun joke tersebut membawa kita pada perspektif yang berbeda. Menawarkan sudut pandang yang simple. Sederhana, dalam melihat suatu hal. Selain itu juga fokus BUKAN pada permasalahan, namun pada penyelesaian masalahnya.
Dalam kehidupan sehari-hari, baik untuk kerap mengeksplore pandangan-pandangan yang sederhana. Dengan demikian kita bisa melihat hal-hal yang terjadi disekeliling kita secara sederhana. Terkadang, karena melihat permasalahan secara rumit, kita gagal untuk melihat jawaban yang ternyata sudah tersedia secara gamblang di depan mata. Hal ini karena pikiran kita sudah terintimidasi oleh kerumitan, atau fokus pada permasalahan, bukan pada penyelesaiannya.
Dalam salah satu buku yang saya baca, saya pernah melihat cerita seperti ini:
“Beberapa waktu yang lalu saya pergi keluar kota dengan menggunakan kereta api” kata seseorang kepada temannya. “Sayangnya saya mendapat tempat duduk yang menghadap ke belakang, padahal saya paling nggak bisa tuh di kereta api duduk menghadap ke belakang. Pasti jadinya pusing, ….” demikian orang tersebut dengan panjang lebar menceritakan permasalahan tersebut kepada temannya. Kemudian si teman tadi bertanya “Kalau begitu kenapa kamu nggak minta tukeran saja sama orang didepan kamu?”
“Iya saya juga berfikir untuk itu, tapi itu nggak bisa saya lakukan karena bangku didepan saya kosong, tidak ada orangnya”.
Begitulah, kita dapat menjadi gagal melihat solusi yang tersedia di depan mata, jika kita terfokus pada permasalahan, bukan pada penyelesaiannya.
Lalu kembali ke cerita gajah tadi, mari saya lanjutkan dengan pertanyaan:
Bagaimana caranya memakan gajah?
Belajar dari cerita diatas, jawabannya mudah saja. Caranya ya dipotong-potong terlebih dahulu sebelum dimakan.
Cerita makan gajah ini merupakan suatu analogi dari goal setting dan bagaimana mencapainya. Gajah itu merupakan penggambaran dari goal kita. Tujuan kita.
Mengapa gajah?
Gajah merupakan seekor binatang yang besar. Demikian, kita boleh dan dianjurkan untuk memiliki tujuan yang besar. Beberapa dari kita mungkin takut untuk menentukan tujuan yang besar, karena takut mengalami kegagalan dan “menderita” kekecewaan yang juga besar. Selain itu, tujuan yang besar cenderung dirasakan mengintimidasi.
Kuncinya adalah dengan memotong-motong gajah tersebut. Dengan membreakdown tujuan besar kita tersebut ke dalam sub tujuan yang lebih kecil. Jika masih terasa besar, kita bagi lagi menjadi bagian-bagian yang lebih kecil, sehingga potongan tersebut bisa kita “makan” dengan mudah. Memang kalau tujuan kita tersebut masih dirasa sangat besar, kita kerap kali merasa terintimidasi. Dengan membuatnya menjadi sub tujuan yang lebih kecil, hal tersebut tidak lagi mengintimidasi kita. Kemudian kita akan merasa lebih nyaman dengan tujuan-tujuan kecil tadi. Ketakutan akan kegagalan besar menjadi tidak relevan, karena sekarang yang mungkin terjadi adalah kegagalan kecil dari tujuan-tujuan kecil. Dan sebaliknya, kita juga akan lebih merasa nyaman dan yakin akan pencapaian tujuan-tujuan kecil tersebut.
Pencapaian sub-tujuan tersebut seperti kita meniti anak tangga. One step at a time. Semuanya menjadi (lebih) mudah. Dengan demikian, ditilik dari hukum ketertarikan (Law of Attraction), kita akan lebih cenderung berfikir ke arah keberhasilan, karena kita lebih yakin untuk mencapai tujuan tersebut. Dengan demikian akan lebih mudah mengattrack keberhasilan. Kalaupun terjadi kegagalan, skala kecewanya juga nggak besar-besar amat, yang lebih mudah untuk diatasi secara emosional.
Maka, janganlah takut untuk mempunyai tujuan-tujuan besar, karena kita bisa memotong-motongnya menjadi sub tujuan yang lebih kecil, dan seterusnya untuk kita capai secara bertahap. Satu persatu. Yang penting fokus pada bagaimana kita mencapainya.
21March2010
Note:
Terkait dengan kekecewaan diatas, ada baiknya kita berlatih untuk melakukan mental / emotional detachment. Kalau di NLP, itu disebut sebagai disasociation. Ilustrasinya adalah seperti kita melihat sebuah film tentang diri kita yang sedang naik roller coaster. Sebaliknya association adalah jika kita menempatkan (memvisualkan) diri kita ada dalam roller coaster tersebut. Coba bayangkan kedua hal tersebut secara bergantian dan rasakan perbedaannya. Pada saat kita membayangkan berada di dalam roller coaster tersebut, bayangkan didalam roller coaster tersebut kita naik perlahan-lahan, sampai titik tertinggi, kemudian meluncur cepat ke bawah, semakin cepat mengikuti tarikan gravitasi dan terus meluncur mengikuti rel yang berkelok-kelok… bagaimana rasanya.
Kemudian, mari kita keluar, dan sekarang seperti kita melihat replay dari adegan tadi melalui sebuah TV kecil. Di TV tersebut kita lihat diri kita didalam roller coaster yang bergerak cepat mengikuti rel yang berkelok-kelok. Dapat anda rasakan perbedaannya?
Demikian tehnik disasosiasi ini dapat dimanfaatkan untuk mengeliminasi emosi-emosi yang tidak membawa manfaat bagi kita atau yang ingin kita hindarkan. Sebaliknya emosi-emosi yang bermanfaat dapat diamplifikasi dengan tehnik asosiasi.

