Archive for November, 2011

29
Nov
11

SEDERHANA

Saat menunggu datangnya makan siang kemarin di warung makan dekat kantor, saya isi waktu dengan membaca harian pos kota yang teronggok di meja. Ada tulisan mengenai sebagian dari acara perkawinan putra presiden SBY, dan beberapa komentar terkait dengan kegiatan tersebut. Tulisan tersebut, selain mengenai kegiatan itu sendiri, juga opini soal “pamer kemewahan” diseputar acara tersebut dan juga soal terpaksa tidak bisanya orang-orang disekitar istana Cipanas untuk berjualan dan murid-murid SD yang tidak bisa bersekolah karena sekolahnya diliburkan demi suksesnya acara tersebut. Ada juga komentar lain (saya tidak ingat siapa) soal SBY tidak lagi pantas mengeluarkan himbauan kepada masyarakat Indonesia untuk hidup “sederhana”, setelah perhelatan tersebut.

Lepas dari esensi komentar tersebut mengenai “walk the talk” serta konsepsi “sederhana” yang mungkin dipahami atau disetujui kebanyakan orang, dari sudut pandang bahasa, konsep sederhana itu sendiri dapat diartikan berbeda dari orang yang satu dengan yang lainnya.

Mirip dengan saat kita memesan gado-gado yang pedasnya “sedang”. Orang yang satu, dengan 1 cabai, pedasnya sudah terasa “sedang”, yang lainnya dengan 5 cabai baru masuk kategori “sedang”. Nah, mana yang benar? Semuanya tentu benar dengan standardnya masing-masing. Demikian pula, konsep “sederhana” pak SBY mungkin berbeda dengan konsep “sederhana” dari sang komentator (he he…)…walaupun menurut saya, konsep sederhana pak SBY “seharusnya” mewakili konsep sederhana yang diamini sebagian besar masyarakat Indonesia, karena beliau adalah wakil dari masyarakat Indonesia (eh, bener gak ya? :) )

Saya tidak bermaksud mendiskusikan konsep sederhana tadi, tapi soal penggunaan bahasa yang intepretatif vs deskriptif.

Kerap permasalahan muncul akibat kesalah pahaman karena penggunaan bahasa yang interpretatif. Seringkali kita merasa mengetahui apa yang dirasakan atau difikirkan orang lain. Padahal itu merupakan interpretasi atau asumsi dari apa yang kita lihat, dengar, atau rasakan dengan menganggap bahwa orang lain persis seperti kita. Interpretasi tersebut tidak selalu merupakan sebuah shared reality. Sedangkan bahasa deskriptif merupakan deskripsi dari apa yang kita lihat, dengar, raba, cium. Hal-hal yang dapat dideteksi langsung oleh panca indra. Hal-hal yang merupakan sebuah shared reality. Bahasa deskriptif ini mendasarkan pada apa yang dideteksi oleh panca indra, atau disebut sebagai sensory-based language. Penggunaan bahasa ini memperluas pilihan kita untuk meresponse orang lain.

Jika kita melihat rekan kita keningnya berkerut dan otot-otot di bibir menegang, kemudian kita menginterpretasikannya sebagai keadaan “marah”, maka kita sudah membatasi pilihan kita untuk meresponsenya. Padahal bisa saja dia sedang berfikir keras atau kemungkinan lainnya, yang responsenya tentu berbeda.

Alih-alih memberi label yang merupakan asumsi kita atas apa yang sebenarnya terjadi, ada baiknya kita membuat deskripsi atas apa yang kita lihat, dengar atau rasakan. Jika perlu, kita verifikasi, apa yang sebenarnya terjadi tersebut, untuk menghindari kesalah-pahaman dan pemberian response yang tidak tepat.

Jadi, saat memesan gado-gado dengan tingkat kepedasan yang “sedang”, bersiaplah untuk mendapatkan rasa yang berbeda dari yang kita harapkan :)

(fian, 28 November 2011)




Follow

Get every new post delivered to your Inbox.