29
Nov
11

SEDERHANA

Saat menunggu datangnya makan siang kemarin di warung makan dekat kantor, saya isi waktu dengan membaca harian pos kota yang teronggok di meja. Ada tulisan mengenai sebagian dari acara perkawinan putra presiden SBY, dan beberapa komentar terkait dengan kegiatan tersebut. Tulisan tersebut, selain mengenai kegiatan itu sendiri, juga opini soal “pamer kemewahan” diseputar acara tersebut dan juga soal terpaksa tidak bisanya orang-orang disekitar istana Cipanas untuk berjualan dan murid-murid SD yang tidak bisa bersekolah karena sekolahnya diliburkan demi suksesnya acara tersebut. Ada juga komentar lain (saya tidak ingat siapa) soal SBY tidak lagi pantas mengeluarkan himbauan kepada masyarakat Indonesia untuk hidup “sederhana”, setelah perhelatan tersebut.

Lepas dari esensi komentar tersebut mengenai “walk the talk” serta konsepsi “sederhana” yang mungkin dipahami atau disetujui kebanyakan orang, dari sudut pandang bahasa, konsep sederhana itu sendiri dapat diartikan berbeda dari orang yang satu dengan yang lainnya.

Mirip dengan saat kita memesan gado-gado yang pedasnya “sedang”. Orang yang satu, dengan 1 cabai, pedasnya sudah terasa “sedang”, yang lainnya dengan 5 cabai baru masuk kategori “sedang”. Nah, mana yang benar? Semuanya tentu benar dengan standardnya masing-masing. Demikian pula, konsep “sederhana” pak SBY mungkin berbeda dengan konsep “sederhana” dari sang komentator (he he…)…walaupun menurut saya, konsep sederhana pak SBY “seharusnya” mewakili konsep sederhana yang diamini sebagian besar masyarakat Indonesia, karena beliau adalah wakil dari masyarakat Indonesia (eh, bener gak ya? :) )

Saya tidak bermaksud mendiskusikan konsep sederhana tadi, tapi soal penggunaan bahasa yang intepretatif vs deskriptif.

Kerap permasalahan muncul akibat kesalah pahaman karena penggunaan bahasa yang interpretatif. Seringkali kita merasa mengetahui apa yang dirasakan atau difikirkan orang lain. Padahal itu merupakan interpretasi atau asumsi dari apa yang kita lihat, dengar, atau rasakan dengan menganggap bahwa orang lain persis seperti kita. Interpretasi tersebut tidak selalu merupakan sebuah shared reality. Sedangkan bahasa deskriptif merupakan deskripsi dari apa yang kita lihat, dengar, raba, cium. Hal-hal yang dapat dideteksi langsung oleh panca indra. Hal-hal yang merupakan sebuah shared reality. Bahasa deskriptif ini mendasarkan pada apa yang dideteksi oleh panca indra, atau disebut sebagai sensory-based language. Penggunaan bahasa ini memperluas pilihan kita untuk meresponse orang lain.

Jika kita melihat rekan kita keningnya berkerut dan otot-otot di bibir menegang, kemudian kita menginterpretasikannya sebagai keadaan “marah”, maka kita sudah membatasi pilihan kita untuk meresponsenya. Padahal bisa saja dia sedang berfikir keras atau kemungkinan lainnya, yang responsenya tentu berbeda.

Alih-alih memberi label yang merupakan asumsi kita atas apa yang sebenarnya terjadi, ada baiknya kita membuat deskripsi atas apa yang kita lihat, dengar atau rasakan. Jika perlu, kita verifikasi, apa yang sebenarnya terjadi tersebut, untuk menghindari kesalah-pahaman dan pemberian response yang tidak tepat.

Jadi, saat memesan gado-gado dengan tingkat kepedasan yang “sedang”, bersiaplah untuk mendapatkan rasa yang berbeda dari yang kita harapkan :)

(fian, 28 November 2011)

27
Sep
10

The 5 Rules of Happiness

Baru membaca artikel tulisan Burt Goldman di newsletter Mind Power News mengenai “5 Rules of Happiness”. Cukup menggelitik: lucu, kelihatannya mudah, tapi….
1. If you Lke a thing, Enjoy it
Gampang, kan.
2.If you don’t like a thing, Avoid it
Keliatannya gampang. Bagaimana kalau itu adalah pekerjaan yang sekarang ini sedang kita hidupi,  yang “menghidupi” kita? Berapa banyak pembenaran untuk tidak menghindari hal-hal ini?
3.If you don’t like a thing, and you cannot avoid it, Change it
Sama seperti poin 2 di atas.
4.If you don’t like a thing, Cannot avoid it, and Cannot or will not change it, Accept it
Nah disini mulai kelihatan “tantangan”nya. Bagaimana kita menerima hal-hal yang tidak kita sukai. Kalau kita tidak menyukai sesuatu, tidak bisa menghindarinya, tidak bisa (tidak mau) merubahnya dan tidak dapat menerimanya, pastinya kita nggak happy.
Kuncinya ada di rule yang ke 5:
5.You accept a thing by changing your attitude towards it
Kita adalah hasil dari sudut pandang dan perilaku kita. Segalanya tergantung pada orang yang mengalaminya. Nggak ada yang mutlak. Tidak ada yang mutlak bagus atau jelek. Tergantung pada yang menjalaninya.
Begitu pula dengan kehidupan. kita merubah hal-hal tersebut dengan merubah sudut pandang kita tentang hal-hal tersebut.
Gampang-gampang susah, ya?
Perilaku dan sudut pandang kita adalah bagian dari pikiran (mind) kita. Jika kita bisa mengembangkan kemampuan untuk mengkontrol pikiran kita, maka kita akan menjadi tuan atas perilaku dan sudut pandang kita. Dengan melatihnya, lama kelamaan hal tersebut bisa berjalan secara otomatis.
Semua kejadian di sekitar kehidupan kita bersifat netral. Memang ada naik-turun dan liku-liku lainnya. Tapi pikiran kitalah yang memberi makna padanya: susah, senang.
Eventually, happiness is just a state of mind, isn’t it?
(fian, 27 September 2010)
05
Apr
10

Today is the Best Day of My Life

Today is the beginning of my new life

I am starting over today

All good things are coming to me today

I am grateful to be alive

I see beauty all around me

I live with passion and purpose

I take time to laugh and play every day

I am awake, energized and alive

I focus on all good things in life

And give thanks for them

I am at peace and one with everything

I feel the love, the joy, the abundance

I am free to be myself

I am magnificence in human form

I am the perfection of life

I am grateful to be…

Me

Today is the best day of my life

Itu kata kata indah yang ada dalam video klip singkat berdurasi dua setengah menit dengan judul yang sama dengan judul tulisan ini. Saya mendapatkannya dari The Secret (www.thesecret.com). Klip yang sangat menarik, terkait dengan Law of Attraction. Dikombinasikan dengan gambar-gambar indah, kalimat-kalimat tadi mengajak kita untuk bersyukur. Mensyukuri apa yang ada sekarang ini.

Intepretasi saya mengenai Law of Attraction, adalah bahwa dengan mensyukuri apa yang ada sekarang, apa yang sudah kita miliki, ini akan menarik keberlimpahan di alam ini, sesuai dengan keinginan kita. Kalimat-kalimat diatas, selain sebagai afirmasi, pengumpan ke subconscious mind kita tentang hal-hal yang secara umum kita inginkan, juga mengajarkan cara-cara praktis untuk kita bisa bersyukur. Bahwa kita tentu ingin agar hal-hal baiklah yang akan mendatangi kita di hari-hari yang kita jalani ini. kita diajak untuk meminta agar hal terjadi. Mintalah, maka akan Kuberi.

Kemudian selebihnya adalah ajakan untuk bersyukur. Sekeliling kita, ini adalah anugerah dari Allah. Namun saking banyaknya anugerah Allah tersebut, maka kemudian kita menganggap hal itu rutin. Kita sudah terbiasa dengan kondisi tersebut, sehingga seringkali alpa untuk mensyukurinya. Menganggap hal tersebut sudah selayaknya “ada”. Udara yang kita hirup, kesehatan, keluarga, teman-teman, pekerjaan, pengetahuan dan lain sebagainya. Sudahkah kita mensyukurinya secara layak?

Sebaliknya jika kita menjumpai hal-hal yang berlawanan dengan keinginan kita, serta merta kita menuduh Tuhan atau dunia ini tidak adil. Macet, sakit, penghasilan kurang, lingkungan yang tidak mensuport, dan lain-lain. Kemudian kita berkeluh kesah.Sangat disayangkan, dengan demikian kita lebih kerap berfokus pada hal-hal yang tidak kita inginkan tersebut.

Kalimat-kalimat diatas mengajak kita untuk fokus pada hal-hal baik. Hal-hal yang kita inginkan. Sekaligus mengingatkan kepada kita untuk mensyukurinya. Fokus pada hal-hal tadi, membuat kita menyadari bahwa banyak sekali hal-hal di dunia ini yang indah, baik, menyenangkan. Ini seharusnya mempermudah kita untuk bersyukur, yang pada gilirannya akan lebih menarik keberlimpahan di alam semesta ini.

Today is the best day of my life.

Frasa yang luar biasa. Mantra yang menakjubkan. Kalimat tersebut menyatakan bahwa Hari ini adalah hari terbaikku. Selain bersifat afirmatif, kalimat tersebut menyiratkan hal lain yaitu bahwa hari ini akan dan harus lebih baik dari hari sebelumnya. Demikian pula esok hari harus lebih baik lagi. Kalimat yang luar biasa untuk ditanamkan di subsconscious kita. Selain untuk disyukuri, tapi juga agar diupayakan untuk lebih baik lagi dan lagi. Bukankah kita akan masuk ke golongan orang orang yang beruntung, jika hari ini lebih baik dari hari sebelumnya. Sedangkan jika hari ini tidak lebih baik dari hari sebelumnya, maka kita masuk pada golongan yang merugi. Apalagi jika hari ini lebih buruk dari hari sebelumnya, maka kita masuk pada golongan orang-orang yang bangkrut!

Maka setiap pagi, saat bangun dari tidur, saat memulai hari yang baik ini, fikirkanlah, ucapkanlah mantra “Today is the best day of my llife“. Hari ini adalah hari terbaikku. Kemudian resapkanlah dengan seluruh panca indra anda. Bayangkan, dengarkan, rasakan dengan “sepenuh hati”. Itu akan memunculkan perasaan berkelimpahan untuk disyukuri, yang pada gilirannya akan menarik hal-hal baik, keberlimpahan dari alam semesta. Dari Allah SWT.

24
Mar
10

Berhenti

Menarik untuk sesekali berhenti, di tengah derasnya irama hidup di kota metropolitan. Untuk sekedar mengingat-ingat kejadian lampau. Untuk melihat sampai dimana perjalanan hidup kita. Atau untuk sekedar beristirahat dari gemulai tarian kehidupan yang tak pernah berhenti. Ya tidak pernah berhenti. Bahkan saat tidur pun jiwa kita tidak sempat untuk melepaskan diri dari pusaran tersebut.

Ya menarik untuk sesekali berhenti. Paling tidak untuk secara sadar melihat ada dimana kita, diantara titik awal keberangkatan kita dan tujuan yang sudah kita tetapkan. Suatu hal yang luarbiasa untuk mendapatkan kesadaran diri, secara sadar. Jika tidak, kita akan seperti mengendarai mobil tanpa pernah melihat pada dashboard. Bahkan tanpa pernah menyadari ada dimana kita sekarang. Apalagi jika kita berangkat tanpa menetapkan satu tujuanpun. Seperti tikus yang terus berlari, terus berlari diatas treadmill. Hanya berlari tanpa tahu akan berlari menuju mana…

Maka memang menarik untuk sesekali berhenti. Untuk mulai menetapkan tujuan. Untuk membuat hidup mempunyai makna, tidak hanya menjadi sekrup dari mesin kehidupan.

Menarik untuk sesekali berhenti, sebelum hidup menghentikan kita pada suatu titik tujuan yang tidak kita tuju……

21
Mar
10

Bagaimana Cara Makan Gajah

Ada suatu joke / teka-teki lawas:
T: Bagaimana memasukan gajah ke dalam kulkas?
J: Buka pintu kulkas, masukan gajahnya lalu tutup kembali kulkasnya.
T: Lalu bagaimana cara memasukan kuda kedalam kulkas?
J: Buka pintu kulkas, keluarkan gajahnya, kemudian masukkan kudanya kedalam kulkas, lalu tutup pntu kulkasnya
T: Di hutan, tarzan berteriak lantang memanggil seluruh binatang. Semua binatang hadir, tapi ada 1 yang tidak hadir. Binatang apakah itu?
J: Kuda, karena masih ada di dalam kulkas.

Seringkali kita melihat suatu permasalahan dari sudut pandang yang rumit dan luput melihatnya melalui sudut pandang yang lebih sederhana. Seperti pada teka-teki diatas, pada awalnya kebanyakan kita akan berfikir secara logis tentang dimensi gajah dan dimensi kulkas yang tidak sebanding. Nggak mungkin banget deh. Kemudian ada jawaban yang sangat sederhana, yang sama logisnya, walaupun nggak nyambung. Memang teka-teki diatas merupakan sebuah joke, dimana jawabannya tentu tidak “kena” di alam nyata. Namun joke tersebut membawa kita pada perspektif yang berbeda. Menawarkan sudut pandang yang simple. Sederhana, dalam melihat suatu hal. Selain itu juga fokus BUKAN pada permasalahan, namun pada penyelesaian masalahnya.

Dalam kehidupan sehari-hari, baik untuk kerap mengeksplore pandangan-pandangan yang sederhana. Dengan demikian kita bisa melihat hal-hal yang terjadi disekeliling kita secara sederhana. Terkadang, karena melihat permasalahan secara rumit, kita gagal untuk melihat jawaban yang ternyata sudah tersedia secara gamblang di depan mata. Hal ini karena pikiran kita sudah terintimidasi oleh kerumitan, atau fokus pada permasalahan, bukan pada penyelesaiannya.

Dalam salah satu buku yang saya baca, saya pernah melihat cerita seperti ini:
“Beberapa waktu yang lalu saya pergi keluar kota dengan menggunakan kereta api” kata seseorang kepada temannya. “Sayangnya saya mendapat tempat duduk yang menghadap ke belakang, padahal saya paling nggak bisa tuh di kereta api duduk menghadap ke belakang. Pasti jadinya pusing, ….” demikian orang tersebut dengan panjang lebar menceritakan permasalahan tersebut kepada temannya. Kemudian si teman tadi bertanya “Kalau begitu kenapa kamu nggak minta tukeran saja sama orang didepan kamu?”
“Iya saya juga berfikir untuk itu, tapi itu nggak bisa saya lakukan karena bangku didepan saya kosong, tidak ada orangnya”.
Begitulah, kita dapat menjadi gagal melihat solusi yang tersedia di depan mata, jika kita terfokus pada permasalahan, bukan pada penyelesaiannya.

Lalu kembali ke cerita gajah tadi, mari saya lanjutkan dengan pertanyaan:
Bagaimana caranya memakan gajah?
Belajar dari cerita diatas, jawabannya mudah saja. Caranya ya dipotong-potong terlebih dahulu sebelum dimakan.

Cerita makan gajah ini merupakan suatu analogi dari goal setting dan bagaimana mencapainya. Gajah itu merupakan penggambaran dari goal kita. Tujuan kita.
Mengapa gajah?
Gajah merupakan seekor binatang yang besar. Demikian, kita boleh dan dianjurkan untuk memiliki tujuan yang besar. Beberapa dari kita mungkin takut untuk menentukan tujuan yang besar, karena takut mengalami kegagalan dan “menderita” kekecewaan yang juga besar. Selain itu, tujuan yang besar cenderung dirasakan mengintimidasi.

Kuncinya adalah dengan memotong-motong gajah tersebut. Dengan membreakdown tujuan besar kita tersebut ke dalam sub tujuan yang lebih kecil. Jika masih terasa besar, kita bagi lagi menjadi bagian-bagian yang lebih kecil, sehingga potongan tersebut bisa kita “makan” dengan mudah. Memang kalau tujuan kita tersebut masih dirasa sangat besar, kita kerap kali merasa terintimidasi. Dengan membuatnya menjadi sub tujuan yang lebih kecil, hal tersebut tidak lagi mengintimidasi kita. Kemudian kita akan merasa lebih nyaman dengan tujuan-tujuan kecil tadi. Ketakutan akan kegagalan besar menjadi tidak relevan, karena sekarang yang mungkin terjadi adalah kegagalan kecil dari tujuan-tujuan kecil. Dan sebaliknya, kita juga akan lebih merasa nyaman dan yakin akan pencapaian tujuan-tujuan kecil tersebut.

Pencapaian sub-tujuan tersebut seperti kita meniti anak tangga. One step at a time. Semuanya menjadi (lebih) mudah. Dengan demikian, ditilik dari hukum ketertarikan (Law of Attraction), kita akan lebih cenderung berfikir ke arah keberhasilan, karena kita lebih yakin untuk mencapai tujuan tersebut. Dengan demikian akan lebih mudah mengattrack keberhasilan. Kalaupun terjadi kegagalan, skala kecewanya juga nggak besar-besar amat, yang lebih mudah untuk diatasi secara emosional.

Maka, janganlah takut untuk mempunyai tujuan-tujuan besar, karena kita bisa memotong-motongnya menjadi sub tujuan yang lebih kecil, dan seterusnya untuk kita capai secara bertahap. Satu persatu. Yang penting fokus pada bagaimana kita mencapainya.

21March2010

Note:
Terkait dengan kekecewaan diatas, ada baiknya kita berlatih untuk melakukan mental / emotional detachment. Kalau di NLP, itu disebut sebagai disasociation. Ilustrasinya adalah seperti kita melihat sebuah film tentang diri kita yang sedang naik roller coaster. Sebaliknya association adalah jika kita menempatkan (memvisualkan) diri kita ada dalam roller coaster tersebut. Coba bayangkan kedua hal tersebut secara bergantian dan rasakan perbedaannya. Pada saat kita membayangkan berada di dalam roller coaster tersebut, bayangkan didalam roller coaster tersebut kita naik perlahan-lahan, sampai titik tertinggi, kemudian meluncur cepat ke bawah, semakin cepat mengikuti tarikan gravitasi dan terus meluncur mengikuti rel yang berkelok-kelok… bagaimana rasanya.
Kemudian, mari kita keluar, dan sekarang seperti kita melihat replay dari adegan tadi melalui sebuah TV kecil. Di TV tersebut kita lihat diri kita didalam roller coaster yang bergerak cepat mengikuti rel yang berkelok-kelok. Dapat anda rasakan perbedaannya?
Demikian tehnik disasosiasi ini dapat dimanfaatkan untuk mengeliminasi emosi-emosi yang tidak membawa manfaat bagi kita atau yang ingin kita hindarkan. Sebaliknya emosi-emosi yang bermanfaat dapat diamplifikasi dengan tehnik asosiasi.

26
Dec
09

Blackberry for wordpress

Just try to post something from wordpress client for blackberry. To download it go to http://blackberry.wordpress.org/install

26
Nov
09

Traveller & Monk

Change Your Mind: And Keep the Change - Steve Andreas & Connirae Andreas (1987) Real People Press

One day a traveler was walking along a road on his journey from one village to another. As he walked he noticed a monk tilling the ground in the fields beside the road. The monk said “Good day” to the traveler and the traveler nodded to the monk.
The traveler then turned to the monk and said, “Excuse me, do you mind if I ask you a question?”
“Not at all,” replied the monk.
“I am traveling from the village in the mountains to the village in the valley and I was wondering if you knew what it is like in the village in the valley?”
“Tell me,” said the monk. “What was your experience of the village in the mountains?”
“Dreadful,” replied the traveler. “To be honest I am glad to be away from there. I found the people most unwelcoming. When I first arrived I was greeted coldly. I was never made to feel a part of the village no matter how hard I tried. The villagers keep very much to themselves; they don’t take kindly to strangers. So tell me, what can I expect in the village in the valley?”
“I’m sorry to tell you,” said the monk, “but I think your experience will be much the same there.” The traveler hung his head despondently and walked on.
A few months later another traveler was journeying down the same road and he also came upon the monk.
“Good day,” said the traveler.
“Good day,” said the monk.
“How are you?” asked the traveler.
“I’m well,” replied the monk. “Where are you going?”
“I’m going to the village in the valley,” replied the traveler.
“Do you know what it is like?”
“I do,” replied the monk. “But first, tell me, where have you come from?”
“I’ve come from the village in the mountains.”
“And how was that?”
“It was a wonderful experience. I would have stayed if I could but I am committed to traveling on. I felt as though I were a member of the family in the village. The elders gave me much advice, the children laughed and joked with me, and the people generally were kind and generous. I am sad to have left there. It will always hold special memories for me. And what of the village in the valley?” he asked again.
“I think you will find it much the same,” replied the monk.
“Good day to you.”
“Good day and thank you,” replied the traveler, smiled, and journeyed on.

15
Oct
09

Goal Setting

Dalam cerita Alice in the wonderland, ada sebuah adegan dimana Alice tiba dipersimpangan jalan dan dia bertanya pada Chesire Cat, jalan mana yang harus ia tempuh. Si kucing bertanya balik, kemana dia ingin pergi. Ketika Alice menjawab “nggak peduli kemana”, dia bilang “ya nggak penting juga jalan mana yang kamu ambil”. Akhirnya Alice hanya berkeliling-keliling tanpa tujuan dalam perjalanannya.
Sebagaimana Alice, seringkali kita menjalani hidup tanpa arah yang jelas. Bahkan ada studi yang menunjukkan bahwa kebanyakan orang tidak tau apa yang mereka inginkan dalam hidup ini. Kalaupun mereka tau, mereka tidak punya rencana untuk menggapai impiannya. Hanya sebagian kecil orang yang memiliki tujuan yang jelas dan spesifik. Dan orang-orang yang sering mencapai tujuannya adalah mereka yang menuliskan tujuan mereka dan membuat rencana untuk mencapai tujuan tersebut.
Menuliskan tujuan adalah faktor penting. Salah satunya adalah agar tujuan tersebut kerap kita baca, kemudian kita serap dan di breakdown menjadi rencana untuk mencapainya. Berikut beberapa petunjuk untuk goal setting:
1. Goal harus dibuat tertulis dan SMART (spesifik, measurable, achievable, reasonable, timely)
2. Goal harus dapat divisualisasikan
3. Goal harus dapat dimanage
4. Analisa potensial problemnya
5. Action plan untuk mengatasi permasalahan tersebut
6. Harus direview progresnya secara berkala
7. Harus memiliki reward yang sangat berarti untuk anda.

07
Aug
09

Kedamaian Hati di Tempat Kerja

Diterjemahkan dari tulisan Remez Sasson

Pekerjaan menyatukan orang dengan berbagai karakter dan perilaku, dan ini sering menyebabkan friksi, ketegangan dan stres. Kadang-kadang bos terlalu menuntut, kolega mungkin tak enak, pekerjaan terlalu banyak atau kondisi kerja yang mungkin tidak nyaman. Pekerjaan yang membosankan, persaingan atau kecemburuan diantara pekerja atau pelanggan yang mungkin tidak ramah. Hal tersebut tentu menimbulkan ketegangan dan stres.

Ini adalah beberapa alasan mengapa kebanyakan orang dgn tidak sabar menunggu untuk berlibur. Liburan memberikan mereka cara untuk keluar dari kehidupan sehari-hari mereka dan mendapatkan kedamaian. Berita baiknya adalah bahwa Anda tidak perlu menunggu untuk berlibur. Anda bisa belajar untuk mendapatkan ketenangan batin dan menikmatinya setiap saat, tepat di mana Anda berada. Anda dapat menghentikan kekhawatiran dan ketegangan. Anda dapat merasakan ketenangan pikiran dan kebahagiaan di manapun Anda berada. Ketika pikiran Anda damai, seluruh lingkungan menjadi damai.
Anda mungkin bertanya-tanya apa yang dapat Anda lakukan untuk membuat ini menjadi kenyataan. Saya tidak akan berbicara tentang meditasi di sini, meskipun ini adalah salah satu alat yang terbaik untuk mendapatkan ketenangan. Di bawah ini Anda akan menemukan beberapa tips dan saran sederhana dan mudah untuk dilaksanakan untuk mendapatkan kedamaian hati di tempat kerja.

Anda mungkin tidak berhasil pada upaya pertama, tapi jika Anda terus melakukan saran ini betul-betul, Anda akan secara bertahap mulai mengalami ketenangan pikiran. Kedamaian ini tidak hanya di dalam hati Anda, namun akan juga mempengaruhi seluruh lingkungan Anda.

1) Jika orang yang anda jumpai berbicara dengan suara keras, tidak sopan dan tegang, Anda mungkin akan bereaksi dan berperilaku yang sesuai, dan membuat suasana semakin tegang. Di sisi lain, jika Anda tetap tenang, berbicara, bertindak dan bereaksi tenang, tanpa disadari orang akan meniru perilaku anda. Anda menjadi pemimpin yang berkuasa, tidak peduli apa posisi Anda di tempat kerja.

2)Setiap hari sebelum Anda masuk kerja, ulangi beberapa kalimat berikut dengan penuh perasaan, kepercayaan dan perhatian: “Pikiran saya damai sepanjang hari. Saya memancarkan kedamaian ke sekitar saya. Saya akan berbicara damai, sopan dan dengan tersenyum. Saya memilih untuk bertindak damai”.

3)Menyapa orang-orang yang bertemu di tempat kerja.

4) Bila Anda merasa tegang dan kemarahan muncul di dalam hati anda, tarik nafas dalam-dalam sebanyak 3 kali secara perlahan sebelum berbicara atau mengambil tindakan.

 5) Perhatikan kata-kata yang anda pikirkan, ucapkan,  atau tuliskan. Gunakan hanya kata-kata positif.

6)Bersikaplah sopan.

7) Bila Anda menyadari volume suara anda meningkat, segera turunkan.

8)Bicara dengan nada suara yang medium. Tidak terlalu keras atau terlalu rendah, dan tidak membiarkan nada atau volume suara orang lain mempengaruhi Anda.

9) Beberapa kali selama jam kerja, temukan tempat yang tenang. Bisa di meja Anda, atau jika tidak cukup tenang, dapat di kamar mandi, kamar yang kosong atau beberapa tempat lainnya yang tenang. Untuk beberapa saat visualisasikan lokasi yang Anda sukai atau beberapa peristiwa yang membuat Anda senang. Rasakan seolah-olah anda berada di sana dan nikmati perasaan yang timbul.

10)Saat bekerja, konsentrasilah pada apa yang anda lakukan, dan beri perhatian penuh. Ini akan menghindarkan fikiran anda dari hal-hal yang mengganggu.

11) Jangan buang waktu dan energi anda untuk menganalisis dan memikirkan motif dan perilaku orang lain, tetapi cobalah untuk meningkatkan kualitas tindakan anda.

12) Sebelum berbicara dengan seseorang yang anda benci atau takuti, atau seseorang yang membuat Anda merasa tegang atau marah, ambil beberapa kali nafas dalam dan visualisasikan anda berdua bercakap secara damai dan harmonis.

© Copyright Remez Sasson

Remez Sasson mengajar dan menulis tentang berpikir positif, visualisasi kreatif, motivasi, self improvement, ketenangan pikiran, pertumbuhan rohani dan meditasi. Dia adalah pengarang dari beberapa buku, di antaranya “Peace of mind in Daily Life”, “Will Power and Self Discipline”, “Visualize and Achieve” dan “Affirmations-Words of Power”.

Kunjungi website nya dan temukan artikel dan buku-buku yang penuh dengan inspirasi, motivasi dan nasihat dan bimbingan praktis.

Website: http://www.SuccessConsciousness.com

Books: http://www.successconsciousness.com/ebooks_and_books.htm

26
Jun
09

Kesetiaan seekor anjing

(sumber: kiriman email dari seorang teman)

Di Kota Shibuya, Jepang, tepatnya di alun-alun sebelah timur Stasiun Kereta Api Shibuya, terdapat patung yang sangat termasyur. Bukan patung pahlawan ataupun patung selamat datang, melainkan patung seekor anjing. Dibuat oleh Ando Takeshi pada tahun 1935 untuk mengenang kesetiaan seekor anjing kepada tuannya.

Seorang Profesor setengah tua tinggal sendirian di Kota Shibuya. Namanya Profesor Hidesamuro Ueno. Dia hanya ditemani seekor anjing kesayangannya, Hachiko. Begitu akrab hubungan anjing dan tuannya itu sehingga kemanapun pergi Hachiko selalu mengantar. Profesor itu setiap hari berangkat mengajar di universitas selalu menggunakan kereta api. Hachiko pun setiap hari setia menemani Profesor sampai stasiun. Di stasiun Shibuya ini Hachiko dengan setia menunggui tuannya pulang tanpa beranjak pergi sebelum sang profesor kembali.. Dan ketika Profesor Ueno kembali dari mengajar dengan kereta api, dia selalu mendapati Hachiko sudah menunggu dengan setia di stasiun. Begitu setiap hari yang dilakukan Hachiko tanpa pernah bosan.

Musim dingin di Jepang tahun ini begitu parah. Semua tertutup salju. Udara yang dingin menusuk sampai ke tulang sumsum membuat warga kebanyakan enggan ke luar rumah dan lebih memilih tinggal dekat perapian yang hangat.

Pagi itu, seperti biasa sang Profesor berangkat mengajar ke kampus. Dia seorang profesor yang sangat setia pada profesinya. Udara yang sangat dingin tidak membuatnya malas untuk menempuh jarak yang jauh menuju kampus tempat ia mengajar. Usia yang semakin senja dan tubuh yang semakin rapuh juga tidak membuat dia beralasan untuk tetap tinggal di rumah. Begitu juga Hachiko, tumpukan salju yang tebal dimana-mana tidak menyurutkan kesetiaan menemani tuannya berangkat kerja. Dengan jaket tebal dan payung yang terbuka, Profesor Ueno berangkat ke stasun Shibuya bersama Hachiko. Tempat mengajar Profesor Ueno sebenarnya tidak terlalu jauh dari tempat tinggalnya. Tapi memang sudah menjadi kesukaan dan kebiasaan Profesor untuk naik kereta setiap berangkat maupun pulang dari universitas.

Kereta api datang tepat waktu. Bunyi gemuruh disertai terompet panjang seakan sedikit menghangatkan stasiun yang penuh dengan orang-orang yang sudah menunggu itu. Seorang awak kereta yang sudah hafal dengan Profesor Ueno segera berteriak akrab ketika kereta berhenti. Ya, hampir semua pegawai stasiun maupun pegawai kereta kenal dengan Profesor Ueno dan anjingnya yang setia itu, Hachiko. Karena memang sudah bertahun-tahun dia menjadi pelanggan setia kendaraan berbahan bakar batu bara itu.

Setelah mengelus dengan kasih sayang kepada anjingnya layaknya dua orang sahabat karib, Profesor naik ke gerbong yang biasa ia tumpangi. Hachiko memandangi dari tepian balkon ke arah menghilangnya profesor dalam kereta, seakan dia ingin mengucapkan," saya akan menunggu tuan kembali."

" Anjing manis, jangan pergi ke mana-mana ya, jangan pernah pergi sebelum tuan kamu ini pulang!" teriak pegawai kereta setengah berkelakar.

Seakan mengerti ucapan itu, Hachiko menyambut dengan suara agak keras,"guukh!" Tidak berapa lama petugas balkon meniup peluit panjang, pertanda kereta segera berangkat. Hachiko pun tahu arti tiupan peluit panjang itu. Makanya dia seakan-akan bersiap melepas kepergian profesor tuannya dengan gonggongan ringan. Dan didahului semburan asap yang tebal, kereta pun berangkat. Getaran yang agak keras membuat salju-salju yang menempel di dedaunan sekitar stasiun sedikit berjatuhan.

Di kampus, Profesor Ueno selain jadwal mengajar, dia juga ada tugas menyelesaikan penelitian di laboratorium. Karena itu begitu selesai mengajar di kelas, dia segera siap-siap memasuki lab untuk penelitianya. Udara yang sangat dingin di luar menerpa Profesor yang kebetulah lewat koridor kampus.

Tiba-tiba ia merasakan sesak sekali di dadanya. Seorang staf pengajar yang lain yang melihat Profesor Ueno limbung segera memapahnya ke klinik kampus. Berawal dari hal yang sederhana itu, tiba-tiba kampus jadi heboh karena Profesor Ueno pingsan. Dokter yang memeriksanya menyatakan Profesor Ueno menderita penyakit jantung, dan siang itu kambuh. Mereka berusaha menolong dan menyadarkan kembali Profesor. Namun tampaknya usaha mereka sia-sia. Profesor Ueno meninggal dunia. Segera kerabat Profesor dihubungi. Mereka datang ke kampus dan memutuskan membawa jenazah profesor ke kampung halaman mereka, bukan kembali ke rumah Profesor di Shibuya.

Menjelang malam udara semakin dingin di stasiun Shibuya. Tapi Hachiko tetap bergeming dengan menahan udara dingin dengan perasaan gelisah. Seharusnya Profesor Ueno sudah kembali, pikirnya. Sambil mondar-mandir di sekitar balkon Hachiko mencoba mengusir kegelisahannya. Beberapa orang yang ada di stasiun merasa iba dengan kesetiaan anjing itu. Ada yang mendekat dan mencoba menghiburnya, namun tetap saja tidak bisa menghilangkan kegelisahannya.

Malam pun datang. Stasiun semakin sepi. Hachiko masih menunggu di situ. Untuk menghangatkan badannya dia meringkuk di pojokan salah satu ruang tunggu. Sambil sesekali melompat menuju balkon setiap kali ada kereta datang, mengharap tuannya ada di antara para penumpang yang datang. Tapi selalu saja ia harus kecewa, karena Profesor Ueno tidak pernah datang. Bahkan hingga esoknya, dua hari kemudian, dan berhari-hari berikutnya dia tidak pernah datang. Namun Hachiko tetap menunggu dan menunggu di stasiun itu, mengharap tuannya kembali. Tubuhnya pun mulai menjadi kurus.

Para pegawai stasiun yang kasihan melihat Hachiko dan penasaran kenapa Profesor Ueno tidak pernah kembali mencoba mencari tahu apa yang terjadi. Akhirnya didapat kabar bahwa Profesor Ueno telah meninggal dunia, bahkan telah dimakamkan oleh kerabatnya.

Mereka pun berusaha memberi tahu Hachiko bahwa tuannya tak akan pernah kembali lagi dan membujuk agar dia tidak perlu menunggu terus. Tetapi anjing itu seakan tidak percaya, atau tidak peduli. Dia tetap menunggu dan menunggu tuannya di stasiun itu, seakan dia yakin bahwa tuannya pasti akan kembali. Semakin hari tubuhnya semakin kurus kering karena jarang makan.

Akhirnya tersebarlah berita tentang seekor anjing yang setia terus menunggu tuannya walaupun tuannya sudah meninggal. Warga pun banyak yang datang ingin melihatnya. Banyak yang terharu. Bahkan sebagian sempat menitikkan air matanya ketika melihat dengan mata kepala sendiri seekor anjing yang sedang meringkuk di dekat pintu masuk menunggu tuannya yang sebenarnya tidak pernah akan kembali. Mereka yang simpati itu ada yang memberi makanan, susu, bahkan selimut agar tidak kedinginan.

Selama 9 tahun lebih, dia muncul di station setiap harinya pada pukul 3 sore, saat dimana dia biasa menunggu kepulangan tuannya. Namun hari-hari itu adalah saat dirinya tersiksa karena tuannya tidak kunjung tiba. Dan di suatu pagi, seorang petugas kebersihan stasiun tergopoh-gopoh melapor kepada pegawai keamanan. Sejenak kemudian suasana menjadi ramai. Pegawai itu menemukan tubuh seekor anjing yang sudah kaku meringkuk di pojokan ruang tunggu. Anjing itu sudah menjadi mayat. Hachiko sudah mati. Kesetiaannya kepada sang tuannya pun terbawa sampai mati.

Warga yang mendengar kematian Hachiko segera berduyun-duyun ke stasiun Shibuya. Mereka umumnya sudah tahu cerita tentang kesetiaan anjing itu. Mereka ingin menghormati untuk yang terakhir kalinya. Menghormati sebuah arti kesetiaan yang kadang justru langka terjadi pada manusia.

Mereka begitu terkesan dan terharu. Untuk mengenang kesetiaan anjing itu mereka kemudian membuat sebuah patung di dekat stasiun Shibuya. Sampai sekarang taman di sekitar patung itu sering dijadikan tempat untuk membuat janji bertemu. Karena masyarakat di sana berharap ada kesetiaan seperti yang sudah dicontohkan oleh Hachiku saat mereka harus menunggu maupun janji untuk datang. Akhirnya patung Hachiku pun dijadikan symbol kesetiaan. Kesetiaan yang tulus, yang terbawa sampai mati.

Film ttg kisah hachiko dibuat d jepang tahun 1987 dgn judul "Hachiko Monagatari". Film ini banyak memperoleh penghargaan…




Follow

Get every new post delivered to your Inbox.